Keharusan Perdamaian Israel-Palestina
Juni 19, 2008
fufud
Bebasnya Yaser Arafat, setelah 34 hari dari kepungan Israel, (Kompas, 3 Mei 2002), dapat menjadi momentum sebagai entry point menuju keadaan damai tanpa konflik kembali. Dan nampaknya, harapan ini tidak semata cita-cita rakyat mereka saja, tapi juga dunia, sebab kita sudah lelah dengan berbagai konflik dan perang yang telah memakan korban jiwa, materi dan peradaban serta menyisakan derita berkepanjangan.
Posisi Israel dan Palestina bisa dikategorikan termasuk kawasan Timur Tengah (timteng). Selama ini, wilayah tersebut dikenal sebagai daerah penuh konflik. Namun, selain potensi konflik, sebetulnya timteng juga memiliki keunggulan lain, diantaranya minyak.
Predikatnya sebagai surga minyak pantas disandang. Hal ini, menjadikan kawasan tersebut penting dalam konstelasi global. Seperti yang terjadi ketika krisis minyak melanda Eropa sebelum perang dunia. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika timteng menjadi “rebutan” banyak negara.
Konflik Israel-Palestina
Konflik berkelanjutan yang melanda kedua negara itu, sejak lama belum menemukan jalan tepat untuk menciptakan situasi damai yang konsisten. Meski, telah beberapa kali konflik antar keduanya seringkali ada masa jedah (tunggu) dari konflik-konflik berikutnya. Namun, kembali berakhir pada tersulutnya konflik hingga mencapai eskalasi yang baru saja masuk dalam fase de-eskalasi.
Dalam melihat persoalan konflik itu, Holsti (1992) menawarkan, 4 komponen untuk mengkajinya, yaitu :
(1) negara yang terlibat dalam konflik;
(2) bidang masalah;
(3) sikap pemerintah, dan;
(4) tindakan pemerintah.
Konflik tersebut, pertama, melibatkan bukan hanya dua negara saja, tapi sudah mengikut-sertakan banyak negara. Terutama negara-negara yang memiliki kepentingan di kedua negara itu. Amerika, salah satu negara yang sangat berkepentingan, sebab menyangkut strategi pertahanannya di kawasan timteng. Israel adalah buffer area Amerika untuk membatasi dan memonitor gerak negara-negara di sana.
Kedua, masalah yang melatar-belakangi konflik itu, tampaknya bukan hanya persoalan daerah kekuasaan saja, namun ternyata, faktor agama adalah substansi dari konflik tersebut. Israel dengan Yahudi-nya, dan Palestina yang menganut Islam, masing-masing dipengaruhi sentimen agama. Padahal, kedua agama itu adalah sama-sama agama monoteis.
Entry Filed under: Sekilas Tentang Dunia
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed